Kamis, 08 April 2010

Akankah Krakatau Mengguncang Dunia lagi?







Di masa lalu, ia membunuh ribuan orang dan mengubah cuaca selama lima tahun, kini bisa jadi lebih fatal...

gunung krakatau

Kilau yang tak menyenangkan: Di tahun 1883, lebih dari 36.000 orang meninggal ketika Krakatau meletus - kini, ribuan lebih petani hidup dekat gunung berapi itu. (Marco Fulle)
Lava jingga terang menyembur ke udara, asap gelap berbaur dengan awan dan malam nan muram berubah menjadi kilau merah yang tak menyenangkan.

Memiliki tinggi 1.200 kaki di atas keheningan tropis Selat Sunda Indonesia, salah satu gunung berapi yang paling mengerikan di dunia itu telah mulai bergetar sekali lagi.

Hampir 126 tahun hingga kini sejak Krakatau pertama kali menunjukkan tanda-tanda letusan, foto-foto menarik telah diterbitkan minggu ini yang membuktikan bahwa sisa bekas gunung berapi yang sangat besar itu sedang mendidih dan meluap.

Dengan kekuatan ledakan 13.000 kali lebih kuat dari bom atom yang mengguncang Hiroshima, letusan Krakatau di tahun 1883 telah menewaskan lebih dari 36.000 orang dan secara radikal mengubah cuaca dan suhu global selama bertahun-tahun sesudah itu.
Gunung Krakatau

Resiko: Bom waktu yang mengepul itu terletak di Selat Sunda, antara Jawa dan Sumatra.

Letusan itu begitu hebat dan merupakan bencana maha dahsyat yang tidak ada satupun gunung berapi di jaman modern ini bisa menyainginya, bahkan letusan spektakuler Gunung St Helen di AS tahun 1980 pun tidak. Kini, hampir satu setengah abad berlalu, akankah kita mulai mengalami ketakutan akan Krakatau sekali lagi?

'Predisi vulkanis sudah semakin baik,' kata Professor Jon Davidson, kepala Ilmuwan Bumi dari Durham University dan seorang ahli vulkanologi yang telah mempelajari langsung Krakatau. 'Namun kita tidak akan pernah dapat secara penuh memprediksikan letusan besar dan tak biasa secara tepat, karena ia luar biasa.'

Namun ada sedikit keraguan bahwa jika Krakatau akan meletus lagi dengan kekuatan dan amukan seperti itu, dampaknya akan jauh lebih mematikan dibandingkan dengan yang telah dialami sebelumnya di abad ke-19.
Gunung Krakatau

Keindahan alami: Fotografer Marco Fulle merekam sebuah badai tengah melewati puncak yang berapi-api itu.

Gunung Krakatau

Saat-saat gelap: Awan mendung yang tak menyenangkan berkumpul saat hujan menyapu daerah itu.
Gunung Krakatau

Bom waktu yang berdetak: Para penduduk pulau berpikir bahwa mereka telah terhindar dari sebuah bencana lain setelah berbagai hal berlalu dengan tenang di tahun lalu.

Laporan resmi saat ini menunjukkan bahwa letusan di tahun 1883, berbarengan dengan tsunami besar yang ditimbulkannya, telah menghancurkan 165 desa dan kota, 132 lebih rusak serius dan menewaskan 36.417 orang sekaligus.

Hampir 150 tahun berlalu, daerah dimana Krakatau berada di antara pulau Jawa dan Sumatra di kepulauan Indonesia telah berpopulasi lebih padat, dengan banyak petani kecil hingga kaya serta tanah vulkanis yang subur di daerah itu. Tak dapat dibayangkan bahwa ratusan ribu orang bisa tewas jika ada letusan besar lainnya.

Krakatau memiliki dampak yang luar biasa terhadap planet ini di masa yang lalu. Suhu rata-rata global menyusul ledakan tersebut telah turun sebanyak 1,2 celcius, ketika sejumlah besar gas dioksida belerang terpompa ke dalam atmosfer menghasilkan awan-awan yang merefleksikan lebih banyak cahaya yang datang dari matahari.
Gunung Krakatau

Badai api: Dalam suatu pertunjukan menarik lava pijar dan abu yang tercampur, Anak Krakatau menampakkan kekuatannya yang tersembunyi. Dalam beberapa tahun terakhir, letusan-letusan telah bertambah intensitasnya.
Gunung Krakatau

Kawah iblis: Letusan Krakatau menampakkan badai api ganas, menambah hawa ancaman.

Marco Fulle, 51, berasal dari Trieste, Italia, telah merekam gambar-gambar ini bulan lalu. Sebagai seorang ilmuwan, astronom dan ahli gunung berapi, Fulle telah memotret komet dan gunung berapi selama bertahun-tahun. Telah menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk membangun portepel fotonya, Fulle secara unik mengambil tempat untuk mengabadikan amukan dan teror kebangkitan raksasa ini.

'Gunung berapi ini mengulang letusan-letusan seperti pada tahun 1883 beberapa kali selama hidupnya,' katanya. 'Pendapat umum bahwa Krakatau akan menjadi benar-benar berbahaya lagi ketika ia mencapai ukuran seperti pada tahun 1883. Waktu itu dua kali lebih tinggi dari dibanding sekarang.'

Kendati optimis, tidak ada jaminan bahwa letusan lainnya tidak akan segera muncul. Saat itu pagi tanggal 20 Mei 1883, ketika sebuah kapal Jerman, Elizabeth, melaporkan melihat adanya sebuah pilar abu dan asap yang muncul tujuh mil di atas pulau Krakatau.

Sudah dua abad sejak adanya letusan yang tepat. Selama bulan-bulan berikutnya asap, riuh dan kepulan debu terus berlanjut. Jauh dari menganjurkan penduduk setempat untuk mengosongkan daerah itu, pertunjukan kembang api alami ini mengakibatkan pesta.

Semuanya berubah setelah tengah hari di tanggal 26 Agustus, ketika serangkaian ledakan besar pertama mengirimkan tembakan puing-puing 22 mil ke udara. Kemudian, pada pukul 5.30 pagi hari berikutnya, empat letusan hebat telah menghempaskan dua pertiga dari pulau itu ke laut.

'Ada campuran kuat magma dan air laut yang membuat letusan itu begitu dahsyat,' kata Profesor Davidson. 'Air telah mengatur jalan masuk ke ruang magma dan akibatnya menghantam pulau itu berkeping-keping.'

Lima mil kubik batu apung, debu dan batu karang dimuntahkan keluar, sementara mega-letusan begitu kencang hingga terdengar sekitar 1.900 mil jauhnya di Perth, Australia Barat, dan 4.500 mil di Sri Lanka.

Mulanya setinggi 2.667 kaki, Krakatau telah runtuh hingga 820 kaki di bawah permukaan laut. Sekitar 4.500 orang tewas dan banyak desa hancur, namun yang jauh lebih mematikan adalah tsunami sesudahnya yang setinggi 130 kaki.

Di Jawa, gelombang menyebar cepat ke daratan. Lima mil dari pantai dekat kota Merak, seorang yang masih hidup menggambarkan momen ketika gelombang menghantam pada Senin pagi itu. 'Kami melihat sesuatu hitam besar datang menuju kami,' katanya. 'Tinggi sekali, dan kami segera melihat bahwa itu adalah air. Pohon-pohon dan rumah-rumah disapu bersih. Adalah kesulitan biasa untuk memanjat ke suatu tempat tertentu. Ini menyebabkan suatu halangan besar, dan satu demi satu mereka hanyut dan dibawa oleh air yang cepat.'

Lebih dari 90 persen dari orang-orang yang tewas oleh Krakatau meninggal dalam tsunami. Dalam tahun-tahun setelah letusan, daerah di sekitar Krakatau sepi. Akan tetapi, di tahun 1927, uap dan batu karang terlihat membuih di air, dan segera Anak Krakatau mulai muncul di permukaan laut.

Pada bulan November 2007, gunung berapi itu mulai meletus ganas lagi, namun para penduduk pulau itu berpikir bahwa mereka telah terlepas dari satu kemungkinan bencana lainnya ketika segala sesuatunya berjalan tenang di tahun sebelumnya.

Musim semi ini, bagaimanapun juga, Anak Krakatau mulai bergemuruh lagi. Letusan demi letusan telah menjadi begitu sengit menerangi awan-awan di atasnya dan menampakkan badai api yang beringas.

Beberapa orang, seperti Profesor Davidson, ragu-ragu mengenai kemungkinan letusan besar yang akan terjadi segera. 'Hanya belum cukup magma,' katanya. 'Daripada membuat prediksi seperti ini, adalah tanggung jawab ilmuwan untuk melakukan apa yang dapat mengurangi resiko bagi mereka yang hidup di sekitarnya. Itu adalah sesuatu yang kita benahi.'

Orang-orang di Selat Sunda hanya bisa berharap dan berdoa bahwa, kali ini, para ilmuwan adalah benar.
Gunung Krakatau

Ancaman: Pijaran bara api pada permukaan puncak yang baru saja aktif, menyebabkan penduduk setempat khawatir jika letusan lainnya akan segera datang.

Sumber: Daily Mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar